my dotfiles
You can not select more than 25 topics Topics must start with a letter or number, can include dashes ('-') and can be up to 35 characters long.
 
 
faultable ce8bba65c5
refactor: delete dita
5 days ago
.config refactor: delete dita 5 days ago
.fonts feat: add .fonts 1 month ago
.gnupg feat: add gpg thing 1 month ago
.local/share/yadm feat: add sway 3 weeks ago
.ssh refactor: delete dita 5 days ago
.yadm docs: add .yadm/README 1 month ago
Pictures feat: add lockscreen wallpaper 2 weeks ago
.editorconfig feat: add .editorconfig 2 months ago
.gitconfig style: fix indentation 1 month ago
.npmrc feat: set custom cache path for npm 1 month ago
.pg_format feat: add more stuff 2 months ago
.prettierrc feat: add prettier 2 months ago
.railsrc feat: add more stuff 2 months ago
.resolv.conf feat: add .resolv.conf 2 weeks ago
.tmux.conf fix: use tmux instead of screen 1 month ago
.zshrc feat: create .zshrc 1 month ago
LICENSE docs: add license 2 months ago
README.md docs: update readme i guess 2 months ago

README.md

faultable's dotfiles

mom, look I'm sharing my dotfiles!

Untuk selengkapnya bisa baca di blog

What's in the box?

  • vim (primary code editor, cocok untuk yang benci vscode)
  • git (primary version control system, cocok untuk yang anti rsync)
  • tmux (terminal multiplixer, cocok untuk orang sibuk)
  • iTerm2 (terminal emulator, because terminal.app is shit)
  • Alacritty (terminal emulator, cocok untuk yang pakai GNU/Linux di lingkungan desktop)

vim(1)

vim

vim adalah penyunting kode utama gue, karena kebanyakan gue aktivitas ngoding gue berada di remote server. Sebelumnya pakai neovim dan entah mengapa merasa sedikit berat dan juga tidak ada perubahan yang kontras antara keduanya, lalu stick di vim murni and never look back

Pernah beberapa pekan menghabiskan waktu untuk mempelajari emacs dengan tujuan ingin pindah dari dunia per-wq-an, dan ternyata kurang cocok dengan kombinasi shortcut sebagai command.

Oh iya, ukuran emacs di gue sampai ~100M, spacemacs included. Kalau tertarik pindah ke emacs, gue menyarankan pakai Spacemacs karena asik, ergonomis, dan terlihat keren untuk sebuah sitem operasi emacs.

Anyway, konfigurasi vim gue menggunakan tema One Dark dan beberapa plugin yang bisa dilihat sendiri di berkas .vimrc. Untuk menggunakan konfigurasi gue, sesederhana mengunduh vim-plug lalu jalankan :PlugInstall. Sepertinya ada beberapa dependensi eksternal, tapi gue lupa apa aja.

git(1)

Tidak ada alasan lain mengapa pakai git karena tuntutan pasar. Alternatif dari git yang menurut gue menarik adalah fossil atau gak radicle alias git untuk yang edgy.

Walau gue selalu berjuang untuk mengingat perintah apa saja yang ada dan layak digunakan di git, tapi gue selalu menolak untuk menggunakan versi GUI dari git client. Tidak ada yang spesial dari konfigurasi git gue, tapi yang layak di highlight antara lain:

  • commit gue selalu signed
  • setiap project gue menggunakan identitas yang berbeda
  • git diff gue lucu!

Khusus untuk git diff, berikut gambarannya:

git-diff

Yang versi atas adalah yang gue gunakan yang mana pakai delta dan yang versi bawah adalah bawaan dari git. Menggunakan delta daripada bawaan ataupun diff-so-fancy membuat perubahan terlihat lebih intuitif dan nyaman dipandang.

tmux(1)

Alasan utama gue pakai terminal multiplexer (tmux/screen) bukan karena gue sibuk, tapi karena ehm biar dapet scrollback karena gue pakai mosh! Alesan pakai mosh ada di blog, intinya, dengan menggunakan tmux gue bisa scroll lagi untuk melihat-lihat output yang panjang khususnya log.

Selain itu, tmux juga berguna (sangat berguna) untuk menyimpan session. Workflow gue dalam bekerja dengan remote server adalah mosh@some-host -- tmux a, yang mana ketika sesi mosh berhasil dibuat, gue akan kembali ke aktivitas terakhir.

Untuk tangkapan layar tmux gue sudah diwakilkan di bagian git, tidak ada yang spesial dengan konfigurasi tmux gue, tapi tampilan tmux gue lebih clean. Ya, kan?

iTerm2

Komputer utama gue adalah Macbook Air 2015 kentang dengan RAM 8GB. Gue pernah berusaha keras untuk mencintai Terminal.app namun tidak pernah berhasil. Alasan menggunakan iTerm2 karena ini terminal emulator pertama yang gue gunakan (Terminal.app gak gue hitung) ketika pertama kali menggunakan MacOS.

Selain menggunakan iTerm2, gue pernah juga menggunakan Alacritty, Kitty, dan Hyper dan selalu kembali lagi ke iTerm2 meski sebelumnya gue paling lama pakai Kitty. Alasan pindah dari Kitty adalah karena harus hot close Kitty untuk menerapkan konfigurasinya dan alasan pindah dari Alacritty adalah karena belum ada dukungan native tab, dan ehm, logo Alacritty enggak banget buat gue hahaha.

Perbedaan paling kontras antara Terminal.app dan iTerm2 adalah: Dukungan true colors, god damn it, Apple. Kekurangan lain dari Terminal.app sebenarnya bisa gue maafkan, tapi untuk masalah warna, sorry not sorry.

Oh iya, iTerm2 juga mendukung GPU Rendering (dan natively via Metal) tapi gue gak peduli-peduli amat karena gak merasakan hal-hal terkait latensi di rendering. Alasan gak pakai Hyper karena, it's like, ok i'm frontend developer, but seriously? Gue bukan meremehkan atau apapun itu, cuma, seriously???

Konfigurasi iTerm2 gue gak ada keren-kerennya, bahkan terkesan mainstream. Tapi gue pakai color scheme One Dark and it's so fuckin cool.

Alacritty

Cool kid, really great performance, dan ditulis menggunakan Rust. Konfigurasi hot-reloaded, tinggal :w maka konfigurasi terterapkan. Cuma salah satunya gak/belum ada dukungan native tab, dan menggunakan tmux dalam tmux gue rasa sesuatu yang kurang efektif?

Kalau gue harus pakai sistem operasi GNU/Linux, gue akan menggunakan Alacritty daripada terminal emulator favorit gue dulu Terminator karena alasan cross-platform dan sekarang tahun 2021.

Udah lama gak pakai Alacritty jadi gue lupa konfigurasi gue gimana.

Dan lain-lain

Untuk selengkapnya, bisa dibaca di blog gue disini.

Lisensi

WTFPL.